Train Yourself To Be Competitive


Biasanya kita selalu diajarkan untuk menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi (kemampuan berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan emosi).
Tapi cerita di bawah ini cukup unik dan menarik untuk dikaji.

Namanya Aji, lulusan dari perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Dia bekerja di perusahaan ternama dan ditempatkan di sebuah tim yang bertugas untuk mengembangkan internet sales channel. Aji harus mengembangkan ide ide baru untuk menjual produk mereka melalui internet.

Seluruh anggota tim perlu bekerja keras, melakukan extra effort dan extra milles bersama-sama.
Yang aneh adalah Aji. Dengan kecerdasannya mestinya dia bisa berprestasi lebih dari yang lain.
Tetapi Aji ini cenderung terlalu santai. Datang tepat waktu. Kerja. Makan siang. Kerja lagi. Dan pulang tepat waktu.

Semua yang disuruh oleh bosnya memang bisa diselesaikan dengan baik.
Masalahnya adalah kita mengharapkan dari Aji untuk exceed (melampaui) ekspektasi bosnya, dan bukan hanya memenuhi (meet) ekspektasi bosnya.

Untuk itu Aji harus bekerja lebih keras lagi, bukan hanya datang tepat waktu pulang tepat waktu, dan terutama harus mencoba melahirkan inisiatif baru dan tidak hanya menunggu instruksi dari bosnya.
Bahkan bonus yang jauh lebih tinggi (apabila pencapaiannya lebih tinggi) pun seolah-olah tidak mampu memotivasinya.

Saya pun tertarik mempelajari kasus ini. Aji adalah contoh klasik dari seseorang yang mempunyai IQ tinggi dan kecerdasan emosi yang tinggi. Tapi dia tidak mempunyai daya juang, fighting spirit, dan competitive mind set.

Menurut saya pribadi, Aji dikaruniai anugerah dan potensi yang sangat tinggi, dan sayang sekali dia menyia-nyiakan potensi tersebut. Aji terlahir dari keluarga yang sangat tradisional, ibu bapaknya menikmati status mereka, dan selalu mengajarkan anak anaknya untuk selalu pasrah dan menerima apa yang mereka punya. Sebagai akibatnya anak-anak mereka (yang cerdas dan mempunyai interpersonal skills yang tinggi) juga selalu menerima apa yang mereka punya dan apa yang mereka capai, tanpa keinginan untuk mencapai yang lebih bagus lagi.

Akibatnya mereka menjalani kehidupan dengan penuh kepasrahan.

Apa yang salah dengan pola ini?
TIDAK ADA !

Tidak ada yang salah dengan pola ini. Saya juga selalu diajari untuk bersyukur.
Dan saya memang selalu bersyukur atas apapun yang saya punya atau yang saya capai.
Tetapi saya juga selalu diajari untuk (at the same time) berusaha dan bekerja keras untuk mencapai yang lebih bagus lagi.

Namun mungkin Aji yang berada di lingkungan yang salah.
Jadi mungkin sebaiknya Aji tidak berada di lingkungan kompetitif seperti perusahaannya saat ini.

Padahal suasana kerja di perusahaan Aji bekerja sekarang sangat kompetitif. Secara perusahaan, mereka harus berlomba-lomba untuk memperebutkan pangsa pasar dan berusaha menjual sebanyak banyaknya dengan profit yang setinggi-tingginya. Secara individu, Aji harus berkompetisi (secara fair dan sehat) dengan karyawan-karyawan yang lain untuk menjadi yang terbaik (yang tentunya akan membawa pengaruh kepada karier, kenaikan gaji, promosi … dll). Kalau Aji tidak siap dengan suasana kerja seperti itu, sebaiknya Aji pindah ke tempat lain yang lebih cocok.

Tetapi banyak perusahaan sekarang berada di dalam suasana yang sangat competitive both internally dan externally. Jadi kalau memang kita ingin sukses dengan karier kita di perusahaan semacam itu, ya mau tidak mau kita harus mendidik diri kita untuk menjadi competitive (tentu saja saya berbicara tentang kompetisi yang fair dan sehat).

Dan di situlah pentingnya kita mendidik diri kita, dan juga anak-anak kita untuk mempunyai semangat yang kompetitif dalam hidup ini. Padahal kadang-kadang kata competitive dan ambisius mempunyai konotasi negatif.

Benarkah itu ?

Mari kita bandingkan dengan olahraga. Olahraga adalah contoh yang baik untuk kita ajarkan sejak usia dini. Karena olahraga mengajarkan kita untuk:

  • Memahami aturan main sebelum bertanding
  • Mengukur performance kita dengan angka (score) yang jelas
  • Membandingkan performance kita dengan lawan kita (untuk mengetahui siapa yang menang dan siapa yang kalah)
  • Mendapatkan peringatan pada saat kita melakukan pelanggaran
  • Mengajarkan kita untuk menang dengan menghormati atura  permainan
  • Mengajarkan bahwa yang kalah harus memberi ucapan selamat kepada yang menang (yang ini susah kan?)
  • Mengajarkan bahwa yang menang juga tidak boleh meledek yang kalah, bahkan yang menang pun harus menyalami dan menghibur yang kalah (lebih susah lagi kan?)

And that’s competitive!
Apakah itu negative? No way!

Berjiwa competitive itu adalah mengerti dan melakukan hal hal tersebut di atas dengan sportif, dan bukannya memenangkan pertandingan dengan cara apapun. Dan ternyata jiwa dan spirit competitive ini yang akan sangat diperlukan di dunia usaha ataupun di karier anda.

Lets look again:

  • Perusahaan yang competitive ingin menjadi market leader, mengalahkan pesaing-pesaingnya, dan ingin mendapatkan profit yang paling tinggi
  • Jangan merasa bersalah kalau perusahaan anda berusaha menjadi Nomor 1, dan mendapatkan profit yang terbesar, dengan profit yang besar anda bisa berinvestasi untuk mengembangkan produk baru, bisa merekruit the best talent, meng-hire konsultan terbaik, dan bahkan menganggarkan sebagian pendapatan untuk kegiatan amal (CSR). Ingat tanpa keuntungan yang besar anda tidak akan mampu melakukan semua itu, kan ?
  • Sebagai karyawan yang competitive anda akan berusaha mencapai performance yang terbaik, dan kemudian anda berkompetisi untuk mendapatkan promosi, kenaikan gaji dan kenaikan bonus
  • Again, jangan pernah merasa bersalah kalau anda menginginkan promosi, bonus atau kenaikan gaji. Bonus dan kenaikan gaji itu akan anda gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menabung buat anak-anak dan keluarga anda. Ini membuktikan bahwa anda adalah seseorang yang sangat bertanggung jawab kepada keluarga.

Jadi mengapa merasa bersalah kalau anda mempunya jiwa competitive ?
Tidak ada yang negative dengan kata competitive dan ambisius kan ?

But , remember, berjiwa competitive berarti ingin menjadi yang terbaik (dibandingkan dengan yang lain), dengan menghormati semua aturan permainan, dan tidak melanggar aturan-aturantersebut, berjiwa sportif, dan tetap bersahabat dengan kompetitor-kompetitor anda.

That’s competitive!

Bayangkan kalau dalam sebuah tim, semua membernya competitive, tim anda akan lebih baik dari tim yang lain. Bayangkan kalau dalam sebuah perusahaan, sebagian besar karyawannya competitive, perusahaan itu akan lebih baik dari yang lain. Dan seandainya dalam sebuah negara, mayoritas warga negaranya competitive, negara itu akan lebih maju dari yang lain, karena mayoritas akan bekerja keras untuk memperbaiki nasibnya.

So, tidak ada yang salah dengan being competitive kan ?
So, tidak ada yang salah dengan berjuang keras untuk memenangkan kompetisi untuk menjadi yang terbaik kan?

Nah, sekarang bagaimana kita berlatih untuk menjadi competitive di tempat pekerjaan kita ?

  • Di manapun anda berada,  berusahalah untuk selalu menjadi yang terbaik,  dengan memberikan kontribusi terbaik, dengan mematuhi semua aturan yang ada
  • Selalu mengukur performance anda dengan angka angka yang jelas (e.g. angka penjualan di sales, talent attrition di HR, customer satisfaction di customer services, reporting timeline, reporting accuracy…etc). Anda tidak akan pernah tahu “how good you are” until you can measure your performance
  • Analisa daftar parameter yang anda bisa ukur (dari daftar di atas) dan pilih yang mana yang paling relevant
  • Identify orang lain, tim lain atau bahkan perusahaan lain, yang akan anda gunakan untuk membandingkan performance anda (dengan catatan, anda bisa mendapatkan informasi untuk parameter tersebut), ini akan menjadi perbandingan (kompetisi) bagi anda
  • Mulailah berkompetisi, dengan terus menerus membandingkan hasil anda dengan parameter pembanding di atas. Do your best to compete ! Do your best to win !
  • Pada akhir tahun (atau setelah 6 bulan), setelah anda membandingkan akan ketahuan apakah anda menang atau kalah. Apapun hasilnya pelajari :
    1. mengapa anda menang (atau kalah)
    2. evaluasi apa yang masih anda bisa perbaiki lagi
  • Develop a balanced performance metrics, performance anda tidak hanya diukur dari satu hal saja, tetapi dari beberapa hal yang penting dalam jangka panjang
  • When you win, take your time to  celebrate
  • When you lost, develop a mental strategy to face it, and move on quickly to the next challenges, and learn what you can do to improve yourself

Remember, being competitive is great.
Because you will learn to be better than others, and to improve yourself.
Because you will do your best to beat your competitors.

Sumber : Forum Managemen SDM

Komentar adalah wujud apreasiasi atas artikel saya ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s