Psikosomatis


Ketika mendengar cerita bahwa ada orang yang bisa sakit gara-gara pikiran saya tidak percaya, namun setelah itu saya mengalaminya sendiri dan bertanya kepada teman saya yang kebetulan adalah orang psikologi. Ternyata penyakit ini disebut psickosomatis. Apa sich psikosomatis itu ??? Psikosomatis berasal dari kata psiko yang berarti pikiran dan soma berarti tubuh, jadi psikomatis adalah penyakit yang timbul disebabkan kondisi mental atau pikiran seseorang.

Contohnya : Apakah Anda pernah merasakan tiba – tiba sakit mag dan setelah dicheck ke dokter ternyata tidak ada apa – apa. Nah itu yang dinamakan psikosomatis, mungkin karena disebabkan stress atau karena tekanan pekerjaan yang tinggi sehingga menyebabkan orang itu terserang mag.

Untuk memahami terjadinya penyakit psikosomatis, maka kita perlu mengetahui beberapa hukum pikiran, yang salah satunya ialah:

– Salah satu pikiran atau ide, mengakibatkan suatu reaksi fisik.

– Simtom yang muncul dari emosi cenderung mengakibatkan perubahan pada tubuh fisik bila simtom ini bertahan lama.

Hukum pertama menyatakan bahwa setiap pikiran atau ide mengakibatkan suatu reaksi fisik. Jika seseorang beranggapan bahwa ia sakit jantung. Maka perasaan tidak nyaman di dada akan muncul. Dan bila ide ini tetap dipertahankan dan ‘diyakini’ akan menjadi ‘belief’, karena gejalanya memang benar gejala penyakit jantung, maka, sesuai bunyi hukum kedua, ia akan benar-benar sakit jantung.

Ada lima cara pikiran bawah sadar berkomunikasi dengan pikiran sadar. Bisa melalui perasaan, intuisi, mimpi, kondisi fisik, dan dialog internal. Umumnya pikiran bawah sadar menyampaikan pesan melalui perasaan atau emosi tertentu. Bila pesan ini tidak ditanggapi maka ia akan menaikkan level intensitas pesannya melalui suatu gangguan fisik dan terjadilah yang disebut penyakit psikosomatis.

David Cheek M.D., dan Leslie LeCron dalam bukunya ‘Clinical Hypnotherapy(1968)’ , terdapat 7 hal yang bisa mengakibatkan penyakit psikosomatis :

1. Internal Conflict : konflik diri yang melibatkan minimal 2 parts.

2. Organ Language : bahasa yang digunakan seseorang dalam mengungkapkan perasaanya.

3. Motivation/Secondary Gain : Keuntungan yang dapat diterima dari seseorang dengan penyakit fisiknya, misalnya perhatian dari orang tua, suami, istri, atau lingkungannya, atau menghindari tanggung jawab tertentu.

4. Past Experience : Pengalaman masa lalu yang bersifat traumatik yang mengakibatkan

5. Identification : Penyakit muncul karena mengidentifikasi seseorang yang dianggap memiliki otoritas atau figur. Klien akan mengalami sakit seperti yang dialami figur otoritas itu.

6. Self Punishment : pikiran bawah sadar membuat klien sakit karena klien punya perasaan bersalah akibat dari melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai hidup yang klien pegang.

7. Imprint : Program pikiran yang masuk ke pikiran bawah sadar klien saat mengalami emosi yang intens. Contohnya orang tua yang mengatakan,”Jangan sampai kehujanan, nanti kamu bisa flu.”

Karena sumber masalah yang sebenarnya adalah emosi maka terapis harus mampu memproses emosi terpendam yang menjadi sumber masalahnya.

Tebetts mengatakan ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan mengatasi simtomnya dengan teknik uncovering : 1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke pikiran sadar untuk diketahui. 2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien. 3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori. 4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga membuat seseorang membuat keputusan di masa depan, yang mana keputusannya tidak dipengaruhi lagi oleh materi yang tertekan (repressed content) di pikiran bawah sadar klien.

Pada saat alasan terciptanya penyakit psikosomatis ini dihilangkan, maka pikiran bawah sadar tidak mempunyai alasan lagi untuk memunculkan penyakit ini di masa mendatang.

Demikianlah artikel ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih karena telah membaca.

Artikel ini dikutip dari sebuah wacana. Maaf tidak saya cantumkan darimana asalnya karena saya lupa mengambil dari lama karena sudah lama ada di draft wordpress saya.

Komentar adalah wujud apreasiasi atas artikel saya ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s