Tips Mengelola Konflik Anak


Bagi para orang tua pasti sering menghadapi situasi dan kondisi dimana anak-anak kita saling bertengkar. Pertengkaran tersebut bisa dimulai dari berebut mainan, berebut acara televisi, ataupun perasaan gemas kepada sang adik yang berujung pada sikap usil.

Beberapa orang tua merasa khawatir akan konflik yang terjadi di atas akan berlanjut hingga saat anak beranjak dewasa. Beberapa orang tua memberikan tanggapan yang salah terhadap situasi di atas. Berikut contoh sikap orang tua yang salah :

  1. Menyelesaikan konflik atau pertengkaran yang terjadi dengan emosi atau nada tinggi. Memang benar secara instan konflik atau pertengkaran tersebut akan berhenti secara seketika, namun hal tersebut berdampak buruk terhadap pola pikir saat anak dalam menyelesaikan permasalahan. Mereka jadi belajar dari sikap orang tuanya bahwa semua masalah dapat diselesaikan secara cepat dengan menggunakan emosi dan nada yang tinggi.
  2. Seperti kasus diatas sang anak yang berebut acara televisi. Orang tua membuat penyelesaian konflik dengan meniadakan televisi atau malah membelikan anak itu masing-masing televisi. Itu adalah penyelesaian yang salah karena tidak mendidik anak untuk menyelesaikan konflik namun malah mendidik sang anak untuk menghindari konflik atau masalah yang ada.

Sebenarnya saat terjadi konflik atau pertengkaran diantara anak adalah saat yang sangat tepat bagi orang tua untuk memberikan pelajaran kepada sang anak mengenai pengendalian emosi, pembelajaran bahwa semua yang dia mau belum tentu didapat, dan tentang menghargai perasaan orang lain.

Sikap yang seharusnya orang tua berikan kepada sang anak saat bertengkar adalah seperti contoh berikut :

  1. Jadilah tauladan bagi sang anak. Orang tua yang mampu mengatasi konflik dengan baik cenderung mendorong anak untuk mengatasi masalah dirinya dengan teman atau saudaranya dengan baik pula.
  2. Bersikap pro aktif menjelang konflik muncul antar anak. Ketika orang tua sudah menangkap sinyal bahwa permainan yang sedang dilakukan oleh anak-anak akan berujung pada konflik, sebaiknya orang tua segera menghentika permainan tersebut dengan cara yang halus.
  3. Percayai anak. Berikan kepada sang anak bahwa mereka dapat menyelesaikan masalah mereka tanpa bantuan orang lain. Hal ini akan mendorong sang anak untuk bersikap lebih mandiri dalam menghadapi konflik dan pertikaian yang terjadi dalam dirinya, namun tetap dampingi dia bila dirasa dia sudah tidak mampu menyelesaikan konflik secara sendiri.
  4. Hargai pendapat orang lain. Mengajari anak untuk menghargai orang lain meskipun dia kurang setuju amatlah penting. Tak setuju bukan berarti harus bertikai. Setiap orang mempunyai sudut pandang dan pendapat yang berbeda mengenai suatu hal dan masalah. Maka dari itu ajarkan dia untuk menghormati pendapat orang lain.
  5. Berikan penghargaan. Berilah anak suatu pujian atau hal yang positif ketika mereka dapat bermain tanpa ada pertikaian. Hal ini akan mendorong mereka untuk lebih rukun dengan saudara atau teman-temannya.

Kita tidak dapat menghindarkan anak dari konflik, namun kita dapat mengajarkan kepada anak bagaimana dapat menyelesaikan konflik dengan baik. Semoga tips yang dapat saya sampaikan dapat membantu dalam mendidik anak agar menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua.

Sumber : Majalah Al Falah Edisi 282

Komentar adalah wujud apreasiasi atas artikel saya ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s